06 November 2009

Mari Memotivasi Anak Bermain Balok


Mari amati foto bangunan balok ini.

Bangunan ini dikatakan memiliki bentuk serta hubungan antar balok, meski sederhana. Disusun menggunakan beragam jenis balok, ada balok unit, balok aksesori, balok khusus juga balok pelengkap.

Bila kita merujuk pada tahapan bermain balok, berarti sang penyusun telah berada pada tahap tertinggi dalam bermain balok. Bangunan ini akan kian kompleks bila ia terus diberi kesempatan bermain balok, disertai penambahan jumlah dan ragam balok.

Setiap anak bisa mencapai tahap tertinggi dalam bermain balok, bila kita bersungguh-sungguh memotivasi mereka.

Inilah Balok Unit, Balok Aksesori, Balok Khusus, serta Balok Pelengkap.

Balok-balok ini dalam warna asli kayu agar anak-anak lebih memfokuskan pada bentuk bangunan yang akan didirikan. Masing-masing jenis balok memiliki beragam bentuk demi mendukung terwujudnya imajinasi dan kreativitas mereka.

Tidak semua anak tertarik bermain dengan balok-balok ini. Melalui pengamatan, kita akan bisa mengetahui penyebabnya. Sebagian besar anak tidak tertarik karena warna dan bentuk balok-balok itu tidak berhasil menginspirasi mereka untuk menjadikan sebagai alat permainan.


Menarik minat anak bermain balok, bisa diawali dengan memberi mereka balok berwarna-warni. Tersedia beragam balok warna-warni dalam ukuran lebih kecil dibanding Balok Unit.

Dua contoh balok warna-warni ini untuk digunakan secara individual. Kegiatan bermain balok akan lebih nyaman bila dilakukan di meja. Berikan motivasi, bila perlu dampingi hingga anak-anak memiliki gagasan dalam menggunakan balok untuk bermain.











Balok dalam warna natural kayu juga tersedia dalam ukuran kecil. Bisa diberikan secara bergantian dengan balok warna-warni. Tujuannya mempersiapkan anak-anak untuk beralih ke Balok Unit.





Bermain balok penting bagi anak-anak, karena mereka akan:
a. mengenal dan belajar tentang beragam bentuk & ukuran, konsep, kosa kata
b. menjadi sangat kreatif
c. berlatih memperkuat ingatan visual
d. berkesempatan membangun rasa bangga, empati, kemandirian

Setiap anak berhak mencapai tahap tertinggi dalam bermain balok.
Mari memotivasi mereka untuk senang bermain balok.

Jangan ragu menghubungi Taman APE Widyantara untuk informasi tentang balok.

Salam BERDAYA!

31 Oktober 2009

Mari Motivasi Anak untuk Bertanya Ini Itu


Tuhan Yang Maha Esa mengkaruniai rasa ingin tahu yang besar pada semua anak usia dini. Rasa ingin tahu itu adalah pintu menuju pertumbuhan dan perkembangan seluruh aspek kemampuan dasar setiap anak. Tanggung jawab kita, pendidik, untuk membantu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh aspek kemampuan dasar mereka. Taman APE Widyantara mengajak serta mendukung Anda untuk menjadi pendidik yang mampu memuaskan rasa ingin tahu anak-anak. Bahkan juga memotivasi mereka untuk selalu bertanya ini-itu tentang berbagai hal di lingkungan sekitar mereka. Mari kita selalu memperkaya pengetahuan tentang beragam hal agar dapat memotivasi anak-anak untuk bertanya ini-itu. Mari kita ajak mereka untuk mengekplorasi "keajaiban" kehidupan di sekitar dengan cara membaca buku bersama. Kami mendukung Anda melalui penyediaan ensiklopedi beragam topik yang disajikan dengan gambar atraktif dan dalam bahasa populer. Sebagian buku yang tersedia di Taman APE Widyantara, kami hadirkan dalam terbitan ini. DUKUNGAN UNTUK PERKEMBANGAN KECERDASAN NATURALIS: DUKUNGAN UNTUK PERKEMBANGAN KECERDASAN LOGIKA MATEMATIKA: DUKUNGAN UNTUK PERKEMBANGAN KECERDASAN INTERPERSONAL: DUKUNGAN UNTUK PERKEMBANGAN KECERDASAN INTRAPERSONAL: DUKUNGAN UNTUK PERKEMBANGAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL: Adakah yang Anda butuhkan? Dengan senang hati, kami akan membantu Anda untuk informasi materi yang lain. Jangan ragu menghubungi kami. Salam BERDAYA!

07 September 2009

Kuda dari Pelepah Daun Pisang


Membuat alat permainan ini sangat mudah. Karena itu, alangkah baiknya jika anak dilibatkan dalam pembuatannya. Berilah motivasi pada setiap anak untuk berani memodifikasi bentuk kuda.

Alat permainan ini dapat kita manfaatkan untuk membangkitkan kreativitas dan emosional anak. Kelolalah emosional anak dengan terlebih dahulu memperdengarkan cerita yang mengandung nilai pembentukan karakter. Saat anak menunggang "kuda" putarkan musik dengan tempo yang mendukung (lambat, sedang atau cepat). Lihatlah bagaimana masing-masing anak mengekspresikan emosionalnya dalam gerak tari.

salam BERDAYA dari Taman APE Widyantara






foto2 dok. Taman APE Widyantara: peringatan hari anak nasional 2009 di kab. Nganjuk

28 Maret 2009

perilaku

perilaku adalah sebuah cara berpikir

sir william james, “hal terpenting dalam waktu kita adalah merubah kehidupan kita dengan cara merubah perilaku-perilaku yang kita miliki”

bukanlah bakat atau kecerdasan yang menentukan perilaku kita dalam hidup

orang-orang yang berhasil atau sukses hanyalah orang-orang biasa yang memiliki perilaku luar biasa

perilaku kita diawali dari berbagai tugas yang kita kerjakan, dan ini akan menentukan keberhasilan tugas/pekerjaan kita

perilaku adalah “hal kecil” yang mampu membuat perbedaan besar

perilaku merupakan pilihan kita sendiri; tidak pernah bergantung pada orang, keadaan atau problem

hidup adalah 10% dari apa yang terjadi terhadap diri kita dan 90% dari bagaimana kita melakukan reaksi (perilaku) terhadap apa yang terjadi pada diri kita sendiri

salam BERDAYA!

21 Maret 2009

Apa yang Akan Anda Lakukan?

andai....anak ini adalah anak anda atau ponakan atau adik atau cucu
andai....anda mau pergi...arisan atau shopping atau ke toko buku...yaa....kemana aja, pokoknya mau pergi keluar rumah.
nah, si anak sudah siap dengan dandanan seperti ini....dia mau ikut anda...

apa yang anda lakukan?....

kasih tahu saya ya... ???

klik "koment" lalu tuliskan koment anda




dok. pribadi. 26 jan 09, di warung pak cip-paiton-probolinggo

13 Maret 2009

Melatih Daya Konsentrasi Anak

Pernahkah Anda mengajak berbicara (menginterupsi) anak yang sedang asyik melakukan sesuatu? Jika ya, berusahalah agar hal itu tidak lagi dilakukan. Mengapa? Menginterupsi anak yang sedang asyik dengan aktivitasnya bisa mengganggu jaringan sel-sel otak yang tengah membentuk konsentrasi. Jika hal ini terjadi, apalagi bila sering, akan menyebabkan RENTANG KONSENTRASI ANAK MENJADI PENDEK

Hal apa yang merangsang anak mampu berkonsentrasi dalam waktu yang (cukup) lama?
1. Minat anak terhadap sesuatu tinggi /besar
2. Mudah (mampu) melakukan kegiatan
3. Memberi kesempatan anak berimajinasi
4. Bermakna bagi anak
5. PAIKEM

Bagaimana dengan ruangan kelas? Apakah di ruangan itu penuh bergantungan dan tertempel beragam hiasan yang berlaku sepanjang tahun? Hal ini pun perlu diwaspadai karena tidak mendukung anak untuk fokus. Akan lebih baik jika benda-benda yang tergantung atau tertempel merupakan karya anak. Karya yang menghias kelas berubah seiring berubahnya tema pembelajaran. Awal dari kegiatan pembelajaran ialah FOKUS pada sesuatu.

Hal apa yang dapat mengganggu daya konsentrasi anak? Cobalah temukan berdasar interaksi bersama anak-anak didik Anda......



12 Maret 2009

Sepasang Boneka ....untuk Apa???


Hampir seluruh peserta pelatihan Alat Permainan untuk Perkembangan Sensorimotor belum pernah melihat sepasang boneka seperti ini sebelumnya. Bagaimana dengan Anda? Sebagai pendidik anak usia dini, bagaimana memanfaatkannya agar berfungsi sebagai alat permainan edukatif?



Dalam pelatihan, para peserta berkesempatan melakukan eksplorasi bermain dengan sepasang boneka berbeda kelamin. Tujuan eksplorasi adalah mendapatkan pemahaman tentang hal-hal yang terstimuli bila anak bermain dengan sepasang boneka berbeda kelamin. Kami sajikan beberapa pemahaman hasil eksplorasi peserta:
1. pemahaman anak tentang diri (AKU) berkembang: laki-laki atau perempuan
2. anak memiliki pengetahuan tentang mandi, yaitu seluruh bagian tubuh perlu disabun
3. menumbuh kembangkan perasaan kasih sayang dalam diri anak
4. anak memiliki pengetahuan bahwa seluruh bagian tubuh perlu dikeringkan setelah
mandi
Saat kepada peserta kami berikan handuk dari bahan kain yang berbeda, maka...
5. anak memiliki pengetahuan bahwa ada kain yang menyerap air dengan baik dan ada
yang tidak.

Bagaimana bila diberikan beberapa jenis pakaian, misalnya celana pendek, rok, blus, serta kaus. Hal apa yang akan terstimulasi pada diri anak?**

Pendidik tercinta, cobalah berikan sepasang boneka berbeda kelamin kepada anak didik Anda. Anda akan mengetahui betapa alat permainan ini mampu menstimulasi perkembangan beragam aspek kemampuan dasar anak. Fasilitasi kegiatan bermain dengan beragam alat dan bahan pendukung. Pilihlah yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.


**Izinkan kami mengetahui gagasan Anda. Poskan melalui "komentar". Terima kasih, Anda BERDAYA!

04 Maret 2009

Lagu untuk Kecerdasan Anak Usia Dini 2

Menyanyi dapat memberi rangsangan psikologis untuk membangkitkan kegembiraan pada anak-anak. Saat mereka menyanyi, keceriaan hati mereka terpantul pada wajah dan gaya mereka. Kegembiraan anak-anak itu terekspresikan melalui bahasa tubuh mereka.















Lihat pula: "Lagu-lagu untuk Kecerdasan Anak Usia Dini 1" 

02 Maret 2009

Lagu untuk Kecerdasan Anak Usia Dini 1

guru tercinta, jika lagu ini bermanfaat untuk pembelajaran kami izinkan untuk diajarkan kepada anak-anak jika anda mengalami kesulitan dalam menyanyikan lagu ini kami di Taman APE dengan senang hati akan membantu Anda BERDAYA!

Lihat pula "Lagu-lagu untuk Kecerdasan Anak Usia Dini 2"

01 Maret 2009

bikin rumah yuk..

punya kardus sepatu?
yuk jadikan sebuah rumah
gampang koq...ikuti saja tahapan pada foto
anak-anak pun bisa dilibatkan untuk membuat

24 Februari 2009

Bagaimana Kita?

Kita selalu dihadapkan kepada interaksi dengan anak-anak usia dini. Kepedulian dan keteladanan kita kepada mereka selalu diuji. Mari amati interaksi kita dengan anak usia dini di rumah, sekolah, serta tempat umum seperti mal atau pasar.

Anak Subyek PAUD
Saat kita berdiri dan bicara dengan anak usia dini, kita hampir selalu tetap berdiri. Ia harus mendongak agar bisa kontak mata dengan kita. Andai kita dalam posisinya, terasa nyamankah? Sulitkah kita membungkukkan badan atau menekuk lutut guna menyamakan dengan tinggi anak? Upaya sepele ini menunjukkan kita peduli pada keberadaan anak. Menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya berarti. Berkembanglah ikatan emosional antara kita dengan anak. Pengalaman ini membuat ia belajar percaya pada orang lain.

Berapa kali kita berseru semacam: “Pergi sana, kamu masih keci!” Mengapa menyudutkan mereka dengan kata masih kecil? Ukuran tubuh, daya pikir, dan perilaku yang begitu di masa usia dini adalah sesuatu yang diberikan olehNya. Tak sepantasnya mendiskriminasikan mereka karena masih kecil, karena keterbatasan daya pikir, atau karena perilaku mereka.

Rumah dan keluarga adalah tempat pembelajaran yang pertama dan utama bagi anak usia dini. Sudahkah kita menjadikannya sebagai tempat untuk membangun harga diri positif pada anak? Acapkali terjadi pemaksaan kehendak kepada anak, “Kaus Ini bagus, cocok untukmu.” Hendaknya kita mendukung anak untuk berani mengambil pilihan.

Memfasilitasi anak untuk mengenal jati dirinya, berlatih menghadapi kegagalan (bila ternyata kaus tidak pantas baginya), serta membangun rasa percaya diri. Menafikan keinginan dan minat anak menentukan pilihan, berarti menghilangkan suatu tahapan yang harusnya ia lalui agar memiliki percaya diri. Menurut Nur Ainy F. Nawangsari, S.Psi., Msi., Ketua Unit Psikologi PAUD Terapan Unair dan Ketua Program Anak Ceria, lompatan dan pemaksaan akan mengakibatkan tercederainya potensi alamiah anak. Ketika anak dipaksa patuh, ia bisa. Ketika ditekan, ia mau menurut. Ketika dituntut, ia manut. Namun ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kehilangan jati dirinya. Orang dewasa hanyalah berperan sebagai pembimbing. Dampingi, berdiri di sampingnya, dukung dari belakang dan berikan contoh yang benar.

Pada kasus lain: Ayah melihat anaknya memasang sepatu kiri pada kaki kanan. “Dudu, terbalik pakai sepatu.” Si anak tetap memasang sepatu kiri pada kaki kanan sambil berkata, “Coba dulu.” Ayah kembali berseru, “Keras kepala, ayo pakai sepatu yang betul.” Dan seberapa sering kita berkata, “Jangan lakukan itu, kamu belum bisa...”

PAUD menekankan pentingnya peran aktif anak dalam berinisiatif dan mengeksplorasi beragam hal di sekitar, untuk mendapatkan pemahamannya. Contoh di atas, Ayah mengabaikan pesan tersurat Dudu untuk bereksplorasi memakai sepatu kiri di kaki kanan. Kita abaikan minat anak memperkaya pengetahuan atau ketrampilan. Masih menurut psikolog Nur Ainy F Nawangsari, rasa ingin tahu yang besar, sikap coba-coba, menggunakan kemampuan berpikir dari sudut pandangnya sendiri adalah naluri seorang anak. Seperti dikemukakan Vygotksy, ahli perkembangan kognitif, kemampuan berpikir anak akan optimal ketika bermitra dengan orang dewasa yang mampu memberikan pijakan (scaffolding) pada saat ia mengembangkan rasa ingin tahunya (bereksplorasi).

Kasus di kelas. Usai cerita tentang layang-layang, Guru meminta anak menceritakan kembali. Seorang anak mengawali cerita dengan peristiwa layang-layang putus, padahal Guru mengawali dengan peristiwa membuat layang-layang. Ah, sayang! Guru mengehendaki anak agar meniru cerita Guru. Keinginan anak berinisitif, memberdayakan kemampuan berpikir, dan imajinasinya dihambat. Menghendaki anak meniru Guru, masih banyak terjadi dalam dunia pendidikan di negeri kita.

Bagaimana komunikasi kita dengan anak usia dini? Apakah kita terbiasa menghampiri untuk bicara pada mereka, bertanya apa yang dialami, dan pertanyaan lain yang berpusat pada dirinya? Apakah kita tergolong yang pernah berseru, “Nak, diam dulu. Ibu sedang bicara… .” Atau kita tetap pada kesibukan meski ada seorang anak mendekat. Ataukah kita merespon cerita anak dengan ungkapan, “lalu?”, “wow, asyik dong.”, “mengapa begitu?”, “lalu kamu bagaimana?”

Ketika kita perhatian pada cerita anak, pendapatnya, gagasannya, atau perasaannnya, anak merasa bahwa dirinya berarti. Respon berupa “mendengarkan” (bukan “terdengar”), membuat anak berani membuat perbedaan dan menjadi berbeda. Hal ini menjadi salah satu pondasi anak untuk berani menjadi diri sendiri.
Bila kita memberi tanggapan yang mengasah daya kritis dan kreativitas berpikir, komunikasi akan menjadi jalan bagi anak untuk mendengarkan sesuatu yang berbeda dari yang dipikirkan, mengetahui alternatif lain, menilai pendapat dan tindakannya, mengidentifikasi perasaannya. Menumbuhkan kemampuan anak menilai posisi dirinya di mata orang lain, mendorong keberaniannya mengambil tindakan.

Proses PAUD Tak Berbatas Ruang dan Waktu
Seorang Nenek jeli menjadikan hobinya memasak sebagai wahana pembelajaran cucu. Ia libatkan cucunya melalui ajakan, “bisa tolong Nenek ambil telur?”, “Bagaimana ya rasa garam, yuk kita cicipi… .”, “Ayo tuangkan gula dua sendok makan”. Kegiatan masak jadi makan waktu, namun memberi kontribusi bagi perkembangan kecerdasan anak. Anak belajar memahami perintah, memperkaya kosa kata, mengenal takaran, melihat perubahan bentuk, bahkan memahami wujud tanggung jawab terhadap pekerjaan rumah. Fungsi indrawi dan motoriknya pun kian terlatih.

Bila di tempat umum, misalnya mal, bagaimana kita? Apakah membiarkan anak membuang bungkus permen sesuka hati? Ataukah mengajak anak berusaha mencari tempat sampah? Pernahkan menjadikan telapak tangan atau tas kita sebagai keranjang sampah bungkus permen anak? Saat berada di tempat umum merupakan kesempatan kita untuk mengajarkan peduli pada fasilitas umum. Meneladankan cara menghargai dan memelihara fasilitas umum. Memberi pemahaman pentingnya manfaat fasilitas umum.

Kasus lain, di kebun binatang. Apa reaksi kita bila melihat anak dengan gembira melempar makanan ke dalam kandang? Kita harus tega menghentikan kegembiraannya. Binatang juga memiliki kebutuhan akan makanan yang sesuai serta jadwal makan. Anak-anak usia dini perlu memahami hal ini. Menghargai kebutuhan binatang serta kesehatannya. Ini langkah membangun kepedulian anak untuk memelihara sesuatu milik bersama.

Pernahkah kita sadari bahwa di pasar tradisional telah terjadi proses pendidikan anak usia dini? Pedagang memberi kesempatan anaknya bermain-main dengan barang-barang dagangan, semisal menghitung, memilah, membungkus, menimbang, atau membandingkan. Bahkan juga tentang kerjasama saat orang tuanya “nempil” (pinjam) barang dagangan pedagang lain.

Melibatkan anak pada pekerjaan kita dengan cara bermain tak ada salahnya. Kasus seorang Penjaga Sekolah di Surabaya. Ia ajak anaknya pada pekerjaan menyiram kebun, untuk memfasilitasi kegiatan main air. Bukan sekedar main air, karena anak akan mendapat pengalaman tentang sifat air dan pertumbuhan tanaman. Memang anak akan menjadi basah. Dengan segera menyediakan air hangat untuk mandi, lalu minum teh manis hangat, kita mengajarkan menjaga keselamatan padanya.

Anak usia dini belajar dari apa yang dilihat dan dialami. Mengajarkan kehati-hatian bukan berarti anak harus mengalami akibat dari suatu tindakan. Contoh, bahwa api sumber panas dan harus hati-hati dengan api, bukan dengan cara mengajak anak memegang api. Namun dipahamkan dengan mengajak anak mengikuti proses mendidihkan air. Setelah suhu air suam-suam kuku, mencelupkan tangan agar dapat merasakan panas.

Sudahkah kita menyadari, anak memiliki kapasitas intelektual yang luar biasa. Bekal dari Sang Pencipta agar ia mampu berperan dalam kehidupan. Mereka belajar dari jiwa dan sikap orang tua, perilaku orang-orang di sekitar,
peristiwa yang dilihat dan dirasakan serta pengalaman yang dimaknainya. Keteladanan dan bimbingan yang benar mutlak diperlukan anak sejak usia dini (urai psikolog Nur Ainy F Nawangsari).

Proses PAUD dapat berlangsung dimana saja. Ini sesuatu yang ada di depan mata dan harus kita lakukan. Orang tua, guru, aparat pemerintah, dan orang dewasa lainnya, memikul tanggung jawab bersama untuk mengantarkan anak-anak usia dini melewati masa keemasan mereka menuju tahap usia selanjutnya.**(erde)

tulisan ini telah diterbitkan di harian SURYA, 30 Juni 2007